Kamis, 23 Desember 2010

Arti kata maaf

“BRAAAK…” aku menggebrak bangkuku karna sebal.
            “Sabar Cel… Sabar…” kata Putri menenangkanku.
            “gue mesti sabar gimana lagi??? Capek gue ngurusin tuh anak!!! Cewek munafik!!!” teriakku sebal.
            “emang kenapa lagi sih cel?” tanya Putri.
            “tuh si Nying-nying cari gara-gara lagi…” jawabku sewot.
            “nying-nying? Icha maksud kamu?” tanya Putri sambil memasukkan alat tulisnya ke dalam tas.
            “siapa lagi?” aku balik tanya.
            “ada masalah apa lagi sih Cel?” tanyanya lagi.
            “seenaknya bikin gossip. Masa’ dia bilang ke kakak kelas kalo gue nembak Kak. Richi.” aku menjelaskan.
            “hah? Nggak mungkin kayaknya. Kamu emang deket sama Kak. Richi, tapi Kak. Richi kan pacarnya Valia, sahabat kita.” Kata Putri kaget.
            “nggak mungkin kan? Udah lah… dari pada aku tambah stress di sini, pulang yuk!” ajakku.
Kami berdua berjalan menyusuri koridor sekolah yang udah sepi.  Terdengar  suara bola beradu dengan tanah, kualihkan pandanganku ke lapangan basket. Ternyata Rio lagi asik mendrible bola. Pandanganku tak lepas dari Rio, sang kapten basket. “DUAAAK…” tiba-tiba kepalaku membentur benda keras.
            “aduuuh…” kataku sambil memegang keningku.
            “Astaga Axcel… bisa-bisanya tiang segitu gede kamu tabrak…” kata Putri menahan tawa.
            “hehehe... lagi asik sih…” jawabku cengengesan.
            “ouh… asik merhatiin itu?” tanya Putri sambil menunjuk ke lapangan basket.
            “ssst… nggak usah nunjuk-nunjuk. Udah yuk!” jawabku sambil menarik lengan Putri.
Segera kunyalakan mesin motorku, dan tanpa diberi perintah, Putri segera naik. Aku memacu motor dengan kencang ke arah rumah.
**
            Udah satu minggu gossip itu menyebar, berbagai pertanyaan, sindiran, dan kecaman telah kutrima, bahkan semakin hari semakin banyak. Aku bisa memaklumi hal itu, karena Kak Richi termasuk cowok popular di sekolahku. Tapi, satu hal yang tak bisa kutrima, Valia merubah sikapnya 180° terhadapku.Untungnya, di saat aku menghadapi cobaan yang tak ringan ini, Putri selalu menemaniku dan memberikan saran.
            “Eh, liat tuh… ada cewek munafik yang nembak Kak.Richi” kata Icha saat aku dan Putri berjalan melewati kelasnya.
            “heh, jaga mulut loe ya!” kataku sambil menatap tajam matanya.
Putri hanya memegang tanganku dengan erat, mungkin ia takut kalau-kalau emosiku meningkat dan aku lepas kendali.
            “udah cel… udah…” Putri menenangkanku.
            “apa? Gue nggak takut sama loe!” Icha membuatku bertambah emosi.
            “Icha! Udah… jangan bikin Axcel marah! Udah yuk cel, kita ke kelas.” Ajak Putri sambil tetap memegang tanganku.
Aku hanya menuruti ajakan Putri dan segera duduk di bangkuku dengan rasa kesal. Sepanjang jam pelajaran terakhir, aku hanya diam mengunci rapat mulutku. Hingga akhirnya bel pulang berbunyi.
            “Put, cabut yuk! Gue nggak betah di sekolah lama-lama.” Ajakku sambil memakai ranselku.
            “mau langsung pulang Cel? Nggak nonton Rio maen basket lagi?” goda Putri.
            “mmm… ya nonton laaah! Loe tuh paling bisa ya bikin emosi gue lenyap.” Kataku sambil melepas senyum.
            “iya dong… Putriii…” kata Putri.
Seperti biasa, kami pulang bersama dan seperti biasa pula, aku memperhatikan Rio yang sedang asik main basket. 15 menit berlalu, Rio berhenti bermain basket dan berjalan ke parkiran.
            “Put, balik yuk…” ajakku.
            “Ok.” Jawab Putri.
**
            Hari Rabu yang lalu, aku dan Putri dipanggil oleh guru BK, beliau mengatakan bahwa ada seorang anak yang menuduhku merebut boyfriendnya. Putri yang biasanya sabar, saat itu menjadi sangat marah karna tak trima ada yang memfitnahku. Padahal sebenarnya aku dan Putri tau siapa orang yang memfitnahku. Tak lain tak bukan adalah Valia yang dihasut oleh Icha, bukan berarti aku menuduh yang tidak-tidak pada dua orang itu. Tapi, sudah berulang kali aku dan Putri memergoki mereka berbicara serius dengan menyebut-nyebut namaku dan Kak.Richi.
            Keesokan harinya, banyak kakak kelas yang mendatangiku sekedar untuk menanyakan kebenaran gossip itu atau untuk memakiku. Aku bisa menerima perlakuan dari mereka yang mungkin tak trima jika Kak Richi digossipkan denganku. Tapi, yang membuatku heran adalah Kak Richi tokoh utama selain aku dalam gossip ini,  santai-santai saja bahkan kudengar dia malah bahagia, karena dengan adanya gossip ini, dia semakin tenar. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengklarifikasi semua ini. Setelah aku mengklarifikasinya, Valia kembali menjadi sahabatku dan Icha semakin tersingkir dan diacuhkan oleh teman-temannya. Sejujurnya aku merasa kasihan pada Icha, namun rasa dendamku terhadapnya lebih kuat dari rasa kasihan itu.
            Setelah kejadian Kamis lalu (pengklarifikasian gossip aku dan Kak.Richi), Icha sama sekali tak ada kabar, Dia tidak masuk sekolah, nomor HPnya tak bisa dihubungi, dan rumahnya selalu kosong jika ada anak yang berniat menjenguknya. Lama kelamaan muncul rasa bersalah dalam diriku, walaupun sejujurnya aku tak bisa menjelaskan kesalahanku terhadap Icha, yang mungkin tidak terbukti adanya. Hari ini, aku bertekad untuk mendatangi rumah Icha sepulang sekolah.
            “Kamu yakin Cel mau ke rumah Icha?” tanya Putri.
            “iya. Gue yakin!” jawabku.
            “gue boleh ikut nggak Cel?” tanya Valia.
            “boleh-boleh aja Val, asalkan loe bisa jaga emosi loe kayak gue ngejaga emosi gue ntar.” Jawabku.
            “kalo gitu, aku juga ikut ya Cel?” pinta Putri.
            “OK. Pulang sekolah kumpul di sini ya.” Jawabku.
Bel pulang telah berbunyi 5 menit yang lalu, aku dan Putri masih menunggu Valia di tempat yang telah kami tentukan tadi. Kulihat seorang gadis berlari mendekati kami. Dia Valia.
            “Cel…Put… gue ada info tentang Icha…” kata Valia sambil terengah-engah.
            “apaan?” tanyaku penasaran.
            “Icha ternyata sakit leokimia. Dan sekarang dia di rawat di rumah sakit X.” Valia menjelaskan.
            “hah? Leokimia?” kataku dan Putri hampir bersamaan.
            “iya, ayo buruan ke rumah sakit X” ajak Valia sambil menarikku dan Putri.
Kami bertiga berlari ke parkiran, aku dan Valia segera menyalakan mesin motor, sedangkan Putri membonceng motorku.
            Sesampainya di rumah sakit X, Valia menanyakan di mana Icha di rawat. Tak lama, Valia berjalan mendekatiku dan Putri yang duduk di ruang tunggu sambil membawa buku kecil.
            “ruang mana Val?” tanyaku.
            “I…I…I…cha udah nggak ada, dia meninggal tadi pagi. Dia nitipin ini buat kita dan temen-temen lain sebelum dia meninggal.” Kata Valia menahan air matanya.
Putri dan aku sangat terkejut dengan berita itu, segera aku menelepon wali kelasku.
            Keesokan harinya, seluruh murid di sekolahku mengunjungi makam Icha. Dan aku meminta Bapak Kepala Sekolah membacakan surat dari Icha.
Jakarta, 12 Desember 2010
Salam Damai,
Temen-temen semua, Icha tau kalo saat kalian baca surat ini, Icha udah pergi dan nggak akan kembali. Satu hal yang Icha mau sampaiin… Icha minta maaf sama kalian semua, kalau semasa hidup, Icha banyak salah sama kalian. Terutama buat Valia, Putri, dan Axcel… karena aku, persahabatan kalian terpecah, kalo boleh aku jujur, sebenarnya selama ini aku nyebarin gossip-gossip nggak bener itu, karna aku kesepian dan butuh temen. Mungkin kalian nggak bisa maafin aku, tapi kini aku sadar, arti Maaf sesungguhnya adalah “MENGAKUI PERBUATAN BURUK YANG DILAKUKAN DAN BERJANJI TIDAK MENGULANGI PERBUATAN BURUK YANG DILAKUKAN ITU”
Cheers,
…ICHA…

Tangis murid-murid segera pecah saat Bapak Kepala Sekolah selesai membacakan surat itu, tak terkecuali  aku, Valia, dan Putri.
**
            Tak terasa, satu bulan sudah kami semua melalui hari-hari tanpa Icha. Namun, dendamku pada Icha telah lenyap sepenuhnya dan sampai saat ini, aku masih menjalani kebiasaanku memperhatikan Rio bermain basket. Sampai detik ini aku, Valia, dan Putri masih bersahabat. Satu hal lagi yang terpenting, kini aku tau apa itu arti maaf. Arti maaf adalah: Mengakui kesalahan kita dan berjanji tak akan mengulanginya.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar